Selasa, 06 Maret 2012

RINGKASAN MATERI DEPRISIASI DAN PAJAK PENDAPATAN

RINGKASAN MATERI DEPRISIASI DAN PAJAK PENDAPATAN
Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik Negara yang seiring dengan waktu dan penggunaannya. Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai egar dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Depresiasi adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan.

Properti yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut:

1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari setahun.
3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/ kehancuran, usang, atau mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
4. Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau Negara yang investasi.

Properti yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi:
- nyata (tangible): dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari egara y personal (personal property) seperti : mesin-mesin, kendaraan, peralatan, egara y dan item-item yang sejenis; dan egara y riil (real property) seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut
- tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.
Definisi-Definisi
Basis, atau basis harga: biaya awal untuk mendapatkan egar (harga beli ditambah pajak), termasuk biaya transportasi dan biaya lain sampai egar tersebut dapat digunakan sesuai fungsinya.
Basis (harga) yang disesuaikan: harga awal egar disesuaikan dengan kenaikan atau penurunan yang diperkenankan. Misal: biaya perbaikan egar dengan umur manfaat lebih dari setahun meningkatkan basis harga awal, dan kecelakanna atau kecurian menurunkan harga awal.
Nilai (harga) buku: nilai egara y ( egar) sesuai dengan laporan akuntansi, yang mewakili jumlah modal yang masih diinvestasikan pada egar tersebut. Sama dengan harga awal (termasuk segala penyesuaian) dikurangi dengan pengurangan karena depresiasi. Nilai buku suatu egar pada akhir tahun ke-k dirumuskan dengan:
K
(Nilai buku) k= basis harga yang disesuaika n – Σ (penguranga n depresiasi)
j=1
Harga pasar: nilai yang dibayar seorang pembeli kepada penjual egar dimana masing-masing mendapatkan keuntungan dan bertindak tanpa paksaan.

METODE-METODE DEPRESIASI
Tapi sebelumnya anda harus mengetahui terlebih dahulu arti dari harga perolehan, nlai residu, dan masa manfaat. Harga perolehan adalah semua biaya yang dikeluarkan selama 1 kali untuk membeli suatu peralatan. Nilai residu adalah taksiran nilai tunai aktiva pada akhir masa manfaat aktiva tsb. Sedangkan masa manfaat adalah jangka waktu pemakaian aktiva yang diharapkan oleh perusahaan.
Metode Depresiasi:
1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
2. Metode Keseimbangan Menurun (Declining Balance Method/ Double Declining Balance
Method)
3. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of the Year Digits Method)
4. Metode Unit Produksi (Unit of Production Method)

Perlu diketahui definisi-definisi:
- Cost: biaya orisinal asset
- Nilai Buku (Book Value-BV) : suatu nilai barang yang sudah tidak terlalu bermanfaat dari segi
pasarnya
- Nilai Pasar (Market Value) : Nilai barang yang menjadi kesepakatan penjual dan pembeli
- Umur Efektif (Useful Life) : harapan (estimasi) jangka waktu penggunaan barang
- Nilai Sisa (Salvage Value/ Residual Value) : estimasi nilai barang pada akhir umur efektifnya


Metode Penyusutan

Untuk menghitung jumlah penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode antara lain:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Dalam metode ini penentuan besar penyusutan setiap tahun selama umur ekonomis sama besar, shg jika dibuatkan grafiknya terhadap waktu, dan akumulasi biaya akan berupa garis lurus.
Cara Menghitung:
Besar penyusutan tiap tahun dapat dihitung dgn rumus:
Besar Penyusutan = Harga Perolehan-Nilai Sisa
Umur Ekonomis
Contoh:
Tgl 1 Agustus 2000 PT ABC membeli sebuah mobil Toyota Kijang seharga Rp 170.000.000,-. Untuk biaya balik nama, pengujian, dan keperluan lainnya dibayar Rp. 5.000.000,-. Mobil tsb ditaksir memiliki umur ekonomis 5 tahun dengan nilai sisa Rp 50.000.000,-

Diminta:
Hitunglah penyusutan pada tahun 2000
Buatlah tabel penyusutan selama 5 tahun

Penyelesaian:
Penyusutan th 2000 dihitung dari tgl 1 Agustus 2000 s/d 31 Des 2000 = 5 bulan:
Besar Penyusutan th 2000 = 5 x (175.000.000-50.000.000)
12 5

= 11.250.000

Tabel Penyusutan tahun 2000-2005
Tahun
Harga Penyusutan
Besar Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
2000
175.000.000
11.250.000
11.250.000
163.750.000
2001
175.000.000
38.250.000
38.250.000
136.750.000
2002
175.000.000
65.250.000
65.250.000
109.750.000
2003
175.000.000
92.250.000
92.250.000
82.750.000
2004
175.000.000
119.250.000
119.250.000
55.750.000
2005
175.000.000
135.000.000
135.000.000
40.000.000

2. Metode Tarif Tetap atas Nilai Buku
Pada metode ini, penentuan besar penyusutan dilakukan dengan cara pengalokasian harga perolehan AT dgn persentase ttt dr nilai buku utk setiap periode akuntansi. Ada dua cara yakni dgn metode saldo menurun dan metode saldo menurun ganda.
Cara menghitung :
a. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)
Langkah2 perhitungan:
1. Tentukan tarif penyusutan
Tarif = 1- ns 1/n
hp
Tentukan besar penyusutan
Besar Penyusutan = Tarif x Nilai Buku

Nilai Buku = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan

Contoh:
Tgl 1 Feb 2001 PT ABC membeli sebuah mesin bubut Rp 350.000.000,-. Untuk biaya pemasangan dan keperluan lainnya dibayar Rp 10.000.000. Mesin tsb ditaksir memiliki umur ekonomis 8 tahun dgn nilai sisa Rp. 60.000.000,-.

Diminta :
a. Hitunglah penyusutan pada tahun 2001
b. Buatlah tabel penyusutan selama 8 tahun

Cara menghitung
Penyelesaian:

Tarif = 1 – (60.000.000/360.000.000) 1/8 = 0,20066 = 20,07 %

a. Penyusutan tahun 2001 dihitung dari tanggal 1 Feb 2001 s.d 31 Des 2001 = 11 bulan
Besar penyusutan tahun 2001 = 11/12 x 20,06 % x 360.000.000
= 66.198.000
Untuk tahun 2002 s.d 2008
Besar Penyusutan = Tarif x Nilai Buku
Besar Penyusutan tahun 2009 = 1/12 x 20,06 % x 61.291.995
= 1.024.596

b. Tabel Penyusutan tahun 2001 – 2009
Tahun
Harga Perolehan
Besar Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
2001
360.000.000
66.198.000
66.198.000
293.802.000
2002
360.000.000
58.936.681
125.134.681.
234.865.319
2003
360.000.000
47.113.983
172.248.664
187.751.336
2004
360.000.000
37.662.918
209.911.582
150.088.418
2005
360.000.000
30.107.737
240.019.319
119.980.681
2006
360.000.000
24.068.125
264.087.443
95.912.557
2007
360.000.000
19.240.059
283.327.502
76.672.498
2008
360.000.000
16.380.603
298.708.005
61.291.996
2009
360.000.000
1.024.598
299.732.603
60.267.397


b. Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Method)

Langkah-langkah Perhitungan:
1. Tentukan Tarif penyusutan
Tarif = 2 x (100%/UE)
2. Besar Penyusutan = Tarif x Nilai Buku
Nilai Buku = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan

Tarif = 2 x (100%/8)
= 25 %

a. Penyusutan th 2001 dihitung tgl 1 Feb 2001 s.d 31 Des 2001 = 11 bulan
Besar penyusutan th 2001 = 11/12 x 25 % x 360.000.000
= 82.500.000
Untuk th 2002 s.d 2008
Besar penyusutan ke n = tarif x nilai buku n-1

Besar penyusutan th 2009 = 1/12 x 25 % x 37.041.779
=771.704


b. Tabel Penyusutan th 2001-2009


Tahun
Harga Perolehan
Besar Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
2001
360.000.000
82.500.000
82.500.000
277.500.000
2002
360.000.000
69.375.000
151.875.000
208.125.000
2003
360.000.000
52.031.250
203.906.250
156.093.750
2004
360.000.000
39.023.438
242.929.688
117.070.313
2005
360.000.000
29.267.578
272.197.266
87.802.734
2006
360.000.000
21.960.684
294.147.949
65.852.061
2007
360.000.000
16.463.013
310.610.962
49.389.038
2008
360.000.000
12.347.260
322.958.221
37.041.779
2009
360.000.000
771.704
323.729.926
36.270.075


3. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of the years Digits Method)

Langkah-langkah perhitungan:
1. Tentukan jumlah angka tahun (JAT)
JAT = nx ((n+1)/2)
2. Tentukan besar penyusutan
Besar Penyusutan = AT x (HP-NS)
JAT
Contoh: Tanggal 1 Mei 2000 CV ABC membeli sebuah mesin 9fotocopy seharga Rp. 50.000.000. mesin fotocopy tsb ditaksir memiliki umur ekonomis 4 tahun dgn nilai sisa Rp. 5.000.000.-

Diminta:
a. Hitung Penyusutan tahun 2000-2005
b. Buatlah tabel penyusutan

Cara menghitung
Penyelesaian:
JAT = 4 x (4+1) = 10 atau JAT = 4+3+2+1 = 10
2

Angka Tahun Terbalik dijabarkan
4
3
2
1
Angka Tahun ke
I
II
III
IV

a. Penyusutan tahun 2000 dihitung dr tgl 1 Mei 2000 s.d 31 des 2000 = 8 bulan

Penyusutan tahun 2000

Besar Penyusutan = 8/12 x 4/10 x (50.000.000 – 5.000.000)
= 12.000.000

Penusutan Tahun 2001

Besar Penyusutan=
4/12 x 4/10 x (50.000.000-5.000.000) = 6.000.000
8/12 x 3/10 x (50.000.000-5.000.000) = 9.000.000
15.000.000

Penyusutan tahun 2002
Besar Penyusutan = 4/12 x 3/10 x (50.000.000-5.000.000) = 4.500.000
8/12 x 2/10 x (50.000.000-5.000.000) = 6.000.000
10.500.000
Penyusutan tahun 2003
Besar Penyusutan = 4/12 x 2/10 x (50.000.000-5.000.000) = 3.000.000
8/12 x 1/10 x (50.000.000-5.000.000) = 3.000.000
6.000.000
Penyusutan tahun 2004
Besar penyusutan = 4/12 x 1/10 x (50.000.000-5.000.000) = 1.500.000

B. Tabel Penyusutan

Tahun
Harga Perolehan
Besar Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Nilai Buku
2000
50.000.000
12.000.000
12.000.000
38.000.000
2001
50.000.000
15.000.000
27.000.000
23.000.000
2002
50.000.000
10.500.000
37.500.000
12.500.000
2003
50.000.000
6.000.000
43.500.000
6.500.000
2004
50.000.000
1.500.000
45.000.000
5.000.000


4. Metode Unit Produksi (Unit of Production Method)

Caranya:
Tentukan besar penyusutan = produksi nyata x (HP-NS) / kapasitas produksi

Contoh:
Sebuah mesin dibeli seharga Rp. 250.000.000,- ditaksir memiliki umur ekonomis selama 5 tahun atau 500.000 jam kerja dan diperkirakan memiliki nilai sisa sebesar Rp. 50.000.000,-. Hitunglah besar penyusutan bila diketahui jam kerja setiap tahun sbb:
Tahun ke 1 = 100.000 jam
Tahun ke 2 = 120.000 jam
Tahun ke 3 = 130.000 jam
Tahun ke 4 = 80.000 jam
Tahun ke 5 = 70.000 jam


Penyelesaian:
Besar Penyusutan tahun 1 =
100.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 40.000.000
500.000
Besar Penyusutan tahun 2 =
120.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 48.000.000
500.000
Besar Penyusutan tahun 3 =
130.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 52.000.000
500.000
Besar Penyusutan tahun 4 =
80.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 32.000.000
500.000
Besar Penyusutan tahun 5 =
70.000 x 250.000.000 – 50.000.000 = Rp. 28.000.000
500.000


Metode Garis Lurus
Metode ini mengasumsikan bahwa egar terdepresiasi secara konstan setiap tahunnya selama umur manfaatnya.
Dk=( B−SVN )
N
dk* = k dk untuk 1 ≤ k ≤ N
BVk = B − dk*
dimana:
N = umur manfaat
B = basis harga, termasuk penyesuaian
dk = pengurangan depresiasi pada tahun ke k (1 ≤ k ≤ N)
BVk = nilai buku pada akhir tahun ke k
SVN = perkiraan nilai sisa pada akhir tahun ke N
d*k = depresiasi kumulatif selama tahun ke k
Metode Declining Balance
Metode ini sering disebut metode presentase tetap atau Rumus Matheson. Diasumsikan bahwa depresiasi biaya tahunan merupakan presentase tetap dari nilai buku dari akhir tahun (BV) pada permulaan tahun yang baru. Rasio depresiasi dalam setiap satu tahun terhadap BV pada permulaan tahun adalah tetap di seluruh umur egar dan ditandai dengan R ( 0 ≤ R ≤ 1 ). Dalam metode ini R = 2/N saat dipakai keseimbangan menurun 200% dan N = umur depresiasi egar. Berikut ini adalah relasi yang tepat untuk metode keseimbangan menurun:
d1 = B®
dk = B(1-R)k-1®
dk = B[1- (1-R)k]
BVk = B(1-R)k
BVN = B(1-R)N
Metode Sum-of-the-Years-Digits (SYD)
Untuk menghitung deduksi depresiasi dengan metode ini, angka-angka yang berkaitan dengan angka untuk setiap umur tahun yang diizinkan berada dalam urutan pertama dalam urutan yang terbalik. Lalu, jumlah dari angka-angka itu ditentukan.Faktor depresiasi untuk setiap tahun merupakan angka dari daftar urutan terbalik untuk tahun tersebut dibagi dengan jumlah angkanya.
Metode produksi-unit
Semua metode depresiasi yang dibahas di sini berdasarkan pada waktu yang sudah lewat, yang mana teori tersebut menyatakan bahwa nilai barang yang menurun sebagian besar adalah fungsi dari waktu. Jika penurunan nilai kebanyakan karena fungsi pemakaian, depresiasi berdasarkan metodenya mungkin tidak terefleksi dalam bentuk tahun. Metode produkis-unit biasa dipakai dalam kasus seperti ini.
Arti dari pajak pendapatan
Pajak pendapatan dinilai sebagai suatu fungsi dari pendapatan kotor dikurangi dengan deduksi yang diizinkan. Hal itu dilakukan oleh ederal, kebanyakan egara bagian, dan terkadang oleh pemerintah kotamadya. Pajak pendapatan biasanya merupakan jenis pajak yang paling signifikan untuk dipakai dalam analisis ekonomi teknik.
Pajak pendapatan adalah, pajak yang di kalkulasikan selama satu tahun dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember dan anda harus membayar pajak tersebut,dan surat pajak pendapatan tersebut dikeluarkannya dari tanggal 16 Februari sampai 15 Maret.
Alasan mempertimbangkan pajak pendapatan dalam mengevaluasi proyek-proyek teknis: pajak pendapatan yang terkait dengan rencana proyek mewakili arus kas keluar utama yang harus dipertimbangkan dengan arus kas masuk dan keluar lainnya dalam mengkaji keuntungan ekonomi total dari proyek. Pajak pendapatan merupakan salah satu jenis pengeluaran dan penghematan pajak pendapatan identik dengan pengurangan pengeluaran (seperti penghematan dalam biaya perawatan)
Tingkat Pajak Pendapatan Perusahaan Efektif (Marginal)
Meskipun undang-undang dan regulasi pajak dari kebanyakan egara bagian dengan pajak pendapatan yang memiliki features dasar yang sama seperti undang-undang dan regulasi federal, terdapat variasi yang signifikan dalam tingkat pendapatan pajak. Pajak pendapatan egara bagian dalam kebanyakan kasus kurang dari pajak federal dan perkiraan dekatnya sering dari peringkat 6% sampai 12% dari pendapatan kena pajak. Tidak akan ada pembahasan secara rinci tentang pajak pendapatan egara bagian.
• Cara pembayaran pajak (laporan keputusan pembayaran pajak dan pajak terhadap sumber pendapatan)
Untuk orang yang mempunyai pekerjaan berdagang, diwajibkan untuk menghitung jumlah pendapatan dan biaya keperluan anggaran belanja dan lain sebagainya,kemudian menyerahkannya langsung ke lembaga perpajakan. Cara ini disebut (laporan keputusan pembayaran pajak). Dan kebalikannya pada orang yang berkerja di perkantoran atau disebut juga orang yang mendapatkan upah gaji dan bonus dari perusahaan,mereka ini tidak membuat laporan keputusan pembayaran pajak. Yang melakukannya adalah perusahaannya dengan cara pemotongan upah gaji perbulannya untuk pembayaran pajak pendapatan dan pembayarannya telah terurus. Cara ini disebut “ pajak terhadap sumber pendapatan”


A. PENYUSUTAN

Penyusutan didefinisikan sebagai proses akuntansi dalam mengalokasikan biaya aktiva berwujud ke beban dengan cara yang sistematis dan rasional selama periode yang diharapkan mendapat manfaat dari penggunaaan aktiva tersebut.

1. Faktor-faktor yang terlibat

a. Dasar penyusutan aktiva.
Dasar yang ditetapkan untuk penyusutan merupakan fungsi dari dua faktor yaitu biaya awal dan nilai sisa. Nilai sisa adalah estimasi jumlah yang akan diterima pada saat itu dijual atau ditarik dari penggunaannya. Nilai sisa merupakan jumlah dimana aktiva harus diturunkan nilainya atau disusutkan selama masa manfaatnya.
b. Estimasi umur pelayanan atau jasa.
Umur pelayanan suatu aktiva dan umur fisiknya seringkali tidak sama. Sebuah mesin secara fisik mungkin dapat memproduksi sejumlah produk tertentu selama beberapa tahun melebihi umur pelayanannya, tetapi mesin tersebut tidak digunakan selama seluruh tahun ini karena biaya pembuatan produk dalam tahun-tahun terakhir mungkin terlalu tinggi. Aktiva ditarik dari penggunaan karena ada dua alasan :
- Faktor-faktor fisik
- Faktor-faktor ekonomi:
• ketidaklayakan, terjadi apabila suatu aktiva tidak berguna lagi bagi perusahaan tertentu karena permintaan akan produk perusahaan itu telah meningkat.
• penggantian, penggantian satu aktiva dengan aktiva lainnya yang lebih efisien dan ekonomis.
• keusangan, tempat pembuangan untuk situasi yang tidak melibatkan ketidaklayakan dan penggantian.

2. Metode Penyusutan

a. Metode aktivitas (unit pengunaan atau produksi).

Misalnya :
Mesin dengan harga perolehan Rp 600.000,00 nilai sisa Rp 40.000,00. Mesin ini ditaksir selama umur penggunaan akan menghasilkan 56.000 unit produk. Depresiasi per unit produk dihitung sebagai berikut :
Depresiasi per unit = HP – NS
n
= Rp 600.000,00 – Rp 40.000,00
56.000,00
= Rp 10,00

Apabila dalam tahun penggunaan pertama, mesin tersebut menghasilkan 18.000 unit produk, maka beban depresiasi untuk tahun ini sebesar 18.000 x Rp 10,00 = Rp 180.000,00.

Metode aktivitas juga disebut pendekatan beban variable, mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas dan bukan dari berlalunya waktu. Umur aktiva ini dinyatakan dalam istilah keluaran yang disediakan atau masukan seperti jumlah jam kerja.

b. Metode garis – lurus.

Metode ini mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan dari fungsi penggunaan. Metode ini telah digunakan secara luas dalam praktek karena kemudahannya. Prosedur garis-lurus secara konseptual seringkali juga merupakan prosedur penyusutan yang paling sesuai.

Contoh soal, misalnya : mesin dengan harga perolehan Rp 600.000,00, taksiran nilai sisa ( residu ) sebesar Rp 40.000,00 dan umurnya ditaksir selama 4 tahun.
Depresiasi tiap tahun dihitung sebagai berikut :
Depresiasi = HP – NS
n
= Rp 600.000,00 – Rp 40.000,00
4
= Rp 140.000,00

Keterangan :
HP = Harga Perolahan (cost)
NS = Nilai Sisa ( residu )
n = Taksiran umur kegunaan

Jika disusun dalam bentuk tabel, maka perhitungan depresiasi dan akumulasi depresiasi dari mesin dimuka adalah sebagai berikut :

Tabel Depresiasi – Metode Garis Lurus

Akhir Tahun ke Debit Depresiasi Kredit Akumulasi Depresiasi Total Akumulasi Depresiasi Nilai Buku Aktiva

1

Rp 140.000,00

Rp 140.000,00

Rp 140.000,00
Rp 600.000,00 Rp 460.000,00
2 Rp 140.000,00 Rp 140.000,00 Rp 280.000,00 Rp 320.000,00
3 Rp 140.000,00 Rp 140.000,00 Rp 420.000,00 Rp 180.000,00
4 Rp 140.000,00 Rp 140.000,00 Rp 560.000,00 Rp 40.000,00

Rp 560.000,00 Rp 560.000,00


c. Metode beban menurun (metode penyusutan dipercepat).

Metode ini menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang.
  1. Jumlah angka tahun, menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan (biaya awal dikurangi nilai sisa).
  2. Metode saldo menurun, metode ini menggunakan tarif penyusutan berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus.
  3. Metode penyusutan khusus
  • Metode kelompok dan gabungan / komposit. Pendekatan gabungan digunakan apabila aktiva bersifat heterogen dan memiliki umur manfaat yang berbeda. Tarif penyusutan gabungan ini ditentukan dengan membagi penyusutan per tahun dengan total biaya aktiva. Jika tidak terdapat perubahan dalam akun aktiva, maka kelompok aktiva akan disusutkan hingga ke nilai sisa atau nilai residu.
  • Metode campuran atau kombinasi. Prinsip akuntansi yang diterima umum hanya mensyaratkan bahwa metode itu menghasilkan pengalokasian biaya aktiva selama umur aktiva dengan cara yang sistematis dan rasional.
3. Pemilihan Metode.

Banyak yang percaya bahwa metode yang paling baik menandingkan pendapatan dengan beban harus digunakan. Karena sulit untuk mempertahankan satu pendekatan sebagai lebih berguna dari lainnya atas dasar konseptual, maka pemilihan metode penyusutan seringkali didasarkan atas pertimbangan praktis. Banyak perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk tujuan pembukuan dan menerapkan metode penyusutan dipercepat untuk tujuan pajak.

a. Masalah Penyusutan Khusus

1) Penyusutan dan Periode Parsial atau Sebagian.


Dalam menghitung beban penyusutan untuk periode parsial, perlu ditentukan beban penyusutan untuk satu tahun penuh dan kemudian merata-ratakan beban penyusutan tersebut diantara dua periode yang terlibat. Proses ini harus terus berlangsung selama masa manfaat aktiva.
2) Penyusutan dan Penggantian Aktiva Tetap.
Penyusutan sama dengan beban lain yang mengurangi laba bersih. Perbedaannya adalah penyusutan tidak melibatkan arus kas keluar periode berjalan. Dana untuk penggantian aktiva berasal dari pendapatan (yang dihasilkan melalui penggunaan aktiva), tanpa pendapatan tidak ada laba yang diwujudkan dan tidak ada arus kas masuk yang dihasilkan.
3) Revisi Tarif Penyusutan.
Ketika aktiva tetap dibeli, tarif penyusutan ditentukan dengan hati-hati berdasarkan pengalaman masa lalu dengan aktiva sejenis dan informasi lainnya yang berkaitan. Akan tetapi provisi untuk penyusutan hanya merupakan estimasi dan mungkin perlu untuk merevisinya selama umur aktiva. Perubahan estimasi harus ditangani dalam periode berjalan dan periode mendatang. Tidak ada perubahan yang harus dibuat atas haasil-hasil yang dilaporkan sebelumnya. Saldo awal tidak disesuaikan dan tidak ada upaya untuk mengejar periode sebelumnya.

B. PENURUNAN NILAI

Standar akuntansi umum mengenai nilai terendah antara biaya atau harga pasar untuk persediaan tidak dapat diaplikasikan pada properti, pabrik dan peralatan. Bahkan ketika properti, pabrik, dan peralatan telah mengalami keusangan sebagian akuntan merasa enggan mengurangi jumlah tercatat aktiva tersebut.

1. Mengakui penurunan.

Dalam standar ini, penurunan nilai terjadi apabila jumlah tercatat aktiva tidak dapat dipulihkan dan oleh karena itu perlu dihapuskan. Berbagai kejadian dan perubahan situasi mungkin akan mengarah pada suatu penurunan nilai.

2. Mengukur penurunan.

Jika pengujian tentang kemampuan pemulihan menunjukkan bahwa penurunan nilai telah terjadi maka suatu kerugian dihitung. Kerugian penurunan nilai adalah jumlah di mana jumlah tercatat aktiva melebihi nilai wajarnya.

3. Restorasi kerugian.

Setelah kerugian penurunan dicatat maka penurunan nilai tercatat aktiva yang ditahan untuk digunakan akan menjadi dasar biaya yang baru. Akibatnya dasar biaya baru ini tidak berubah kecuali untuk penyusutan di periode masa depan atau penurunan nilai tambahan.

4. Aktiva yang akan dilepaskan.

Aktiva yang diturunkan dilaporkan pada yang terendah antara biaya atau nilai wajar dikurangi biaya untuk menjualnya (nilai realisasi bersih). Karena aktiva dimaksudkan untuk dilepaskan dalam periode waktu yang singkat, maka nilai realisasi bersih akan digunakan dalam rangka menyediakan ukuran yang lebih baik atas daar yang sama dengan aktiva lainnya yang tidak menurun.

Penurunan Nilai yang maksud di sini adalah penurunan harga pokok persediaan. Harga pokok persediaan bisa turun karena beberapa hal yaitu :
1. Rusak / Ketinggalan Zaman
Persediaan bahan baku atau barang dagangan yang datang dari suplier belum tentu langsung digunakan atau dijual habis. Bahan / barang belum terpakai / terjual tersebut disimpan dalam gudang. Selama masa menunggu untuk digunakan atau dujual bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, rusak misalnya atau penurunan harga jual untuk barang dagangan. Hal ini menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
Kerugian yang diakibatkan persediaan barang dagangan diukur dengan selisih antara harga perolehan dengan taksiran nilai bersih yang bisa direalisasi. Taksiran nilai bersih yang bisa direalisasi adalah teksiran harga jual dikurangi biaya utnuk menjual barang dagangan tersebut termasuk biaya reparasi untuk menjual barang tersebut.
Contoh : Sebuah toko baju, ada beberapa baju yang kancing bajunya lepas atau ada baju yang rusak. Pada kondisi normal harga perolehan baju tersebut adalah Rp. 30.000,- tapi karena cacat, baju tersebut di jual dengan harga Rp. 20.000,- setelah diperbaiki, biaya untuk memperbaiki adalah Rp. 5.000,- Nilai bersih yang bisa direalisasi adalah harga jual (20.000) dikurangi biaya perbaikan (5.000), hasilnya sama dengan Rp. 15.000,-. Dengan demikian perusahaan akan menderita kerugian sebesar Rp. 15.000,- (30.000 – 15.000). jurnal untuk mencatat kerugian ini adalah
Kerugian Penurunan nilai Persediaan 15.000
Persediaan 15.000

2. Penurunan Harga
Penurunan harga bisa terjadi karena stock di pasaran melimpah, daya beli masyarakat turun dan karena adanya model baru yang lebih canggih. Contoh konkrit penurunan harga adalah pada produk elektronik dan alat komunikasi handphone. Jika ada model baru maka model lama ditinggalkan / tidak lagi diminati, hal ini menimbulkan penurunan harga.
Contoh : Harga perolehan televisi pada kondisi normal adalah Rp. 400.000,- tapin karena ada produk baru yang lebih canggih maka produk lama tersebut kurang diminati, hal ini menyebabkan penurunan harga perolehannya menjadi Rp. 350.000,- agar produk tersebut tetap laku di jual. Penurunan harga perolehan ini menyebabkan kerugian sebesar Rp. 50.000 per satu televisi.
Jurnal untuk mencatat kerugian pada akhir bulan / tahun adalah
Kerugian penurunan nilai persediaan 50.000
Persediaan 50.000

3. Hilang / Rusak Parah
Apabila ada satu atau beberapa produk yang rusak parah dan tidak bisa diperbaiki lagi, atau ada produk yang hilang maka jurnal untuk mencatat hilang atau produk rusak adalah :
Kerugian penurunan nilai persediaan 50.000
Persediaan 50.000

Produk yang hilang atau rusak tersebut dicatat sebesar harga perolehannya.


C. DEPLESI

Sumber daya alam yang serinkali disebut aktiva yang dapat habis mencakup minyak, mineral, dan kayu. Aktiva ini dikarakteristikkan dengan dua fitur utama : (1) pengambilan sepenuhnya aktiva itu dan (2) penggantian aktiva ini hanya dapat dilakukan oleh tindakan alam.

1. Menentukan dasar

a. Penetapan dasar deplesi.
Perhitungan dasar deplesi melibatkan empat faktor :
  • Biaya akuisisi, adalah harga yang dibayarkan guna memperoleh hak properti untuk mencari dan menentukan sumber daya alam yang belum ditemukan atau harga yang harus dibayar untuk sumber daya yang telah ditemukan .
  • Biaya eksplorasi, seringkali diperlukan untuk menemukan sumber daya alam.
  • Biaya pengembangan, dibagi menjadi dua (1) peralatan berwujud, termasuk semua transportasi dan peralatan berat lainnya yang diperlukan untuk menambang sumber daya serta menyiapkannya untuk produksi atau pengiriman. Karena aktiva ini dapat dipindahkan dari satu lokasi pengeboran atau penambangan ke lokasi lainnya maka biaya peralatan berwujud biasanya tidak diperhitungkan dalam dasar deplesi. dan (2) biaya pengembangan tidak berwujud, dianggap sebagai bagian dasar deplesi. Biaya ini adalah untuk pos-pos seperti biaya pengeboran, terowongan, gua, dan sumur yang tidak memiliki karakteristik berwujud tetapi diperlukan dalam menambang sumber daya alam.
  • Biaya restorasi, biaya ini harus ditambahkan ke dasar dplesi untuk tujuan perhitungan biaya deplesi per unit. Kemudian setiap niali sisa yang diterima atas properti itu dikurangi dari dasar deplesi.
b. Penghapusan biaya sumber daya

Menentukan bagaimana biaya sumber daya alam harus dialokasikan ke periode akuntansi. Biasanya deplesi dihitung dengan metode unit produksi (pendekatan aktivitas), yang berarti bahwa deplesi merupakan fungsi dari jumlah unit yang ditarik selama periode berjalan. Tingkat deplesi yang ditetapkan dihitung dengan cara berikut :

Total biaya – nilai sisa = Biaya deplesi per unit = Total estimasi unit yg tersedia

c. Kontroversi yang berkelanjutan

1) 1977-FASB mengluarkan statement no.19, yang mengharuskan perusahaan minyak dan gas untuk mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
2) 1978-Dalam menanggapi kritik terhadap tindakan FASB, SEC memeriksa kembali masalah itu dan menemukan bahwa baik akuntansi upaya yang berhasil maupun biaya penuh tidak memadai karena tidak satupun yang merefleksikan substansi ekonomi dari ekplorasi minyak dan gas.
3) 1979-1091, sebagai akibat dari tindakan SEC, FASB tidak mempunyai pilihan selain menerbitkan standar lain yang menunda persyaratan bahwa perusahaan harus mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
4) 1981-SEC mengumumkan bahwa ia membatalkan RRA sebagai metode pengakuan akuntansi potensial dalam laporan keuangan utama produsen munyak dan gas.
5) 1986-salah satu persyaratan akuntansi biaya penuh adalah bahwa biaya hanya dapat dikapitalisasi hingga batas atas, yang tingginya ditentukan oleh nilai sekarang dari cadangan perusahaan.

2. Masalah khusus

a. Mengestimasi cadangan yang dapat dipulihkan.


Seringkali estimasi cadangan yang dapat dipulihkan harus diubah baik karena informasi baru telah tersedia maupun karena proses produksi telah menjadi lebih canggih. Masalah ini sama dengan akuntansi untuk perubahan estimasi umur manfaat pabrik dan peralatan.

b. Nilai penemuan.

Nilai penemuan merupakan istilah lebih luas yang berkaitan dengan keseluruhan daerah sumber daya alam. Seperti ditunjukkan sebelumnya akuntan tidak mengakui nilai penemuan. Akan tetapi, jika nilai penemuan akan dicatat maka suatu akun aktiva akan didebet dan akun apresiasi yang belum direalisasi akan di kredit.

c. Aspek pajak dari sumber daya alam.

Peraturan pajak telah lama menetapkan pengurangan yang lebih besar dari biaya atau persentase pajak deplesi terhadap pendapatan minyak, gas, dan kebanyakan mineral. Persentase deplesi atau statuter memungkinkan pengahapusan sekitar 5% hingga 22% (tergantung pada sumber daya alam) dari pendapatan kotor yang diterima.

d. Dividen likuidasi

Masalah akuntansi yang utama adalah membedakan antara dividen yang merupakan pengembalian modal dan yang bukan. Perusahaan yang menerbitkan dividen likuidasi harus mendebet agio saham untuk bagian yang berhubungan dengan investasi awal dan bukan ke laba ditahan, karena dividen tersebut merupakan pengembalian sebagian dari kontribusi awal investor.

Beberapa perbedaan antara deplesi dan depresiasi adalah sebagai berikut :
  • Deplesi merupakan pengakuan terhadap pengurangan kuantitatif yang terjadi dalam sumber-sumber alam, sedangkan depresiasi merupakan pengakuan terhadap pengurangan service ( manfaat ekonomi ) yang terjadi dalam aktiva tetap.
  • Deplesi digunakan untuk aktiva tetap yang tidak dapat digantilangsung dengan aktiva yang sama jika sudah habis, sedangkan depresiasi digunakan untuk aktiva tetap yang pada umumnya dapat diganti jika sudah habis.
  • Deplesi adalah pengakuan terhadap perubahan langsung dari suatu sumber alam menjadi barang yang dapat dijual, sedangkan depresiasi adalah alokasi harga perolehan ke penghasilan periode yang bersangkutan untuk suatu service yang dihasilkan ( kecuali dalam perusahaan dimana depresiasi dihitung berdasarkan hasil produksi ).
3. Metode Perhitungan Deplesi

Untuk menghitung deplesi ada 3 hal yang harus dperhatikan yaitu :

a) Harga perolehan aktiva

Dalam hal sumber-sumber alam, harga perolehannya adalah pengeluaran sejak memperoleh izin sampai sumber alam itu dapat diambil hasilnya. Jika kumpulan pengeluaran itu terlalu kecil maka dilakukan penilaian terhadap sumber alam tersebut.

b) Taksiran nilai sisa apabila sumber alam sudah selesai dieksploitasi.

c) Taksiran hasil yang secara ekonomis dapat dieksploitasi.

Deplesi dihitung untuk tiap unit hasil sumber alam ( ton, barrel, dan lain-lain ). Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas berikut diilustrasikan contoh sebagai berikut :

Tanah yang mengandung hasil tambang dibeli dengan harga Rp 20.000.000,00. Taksiran isinya sebesar 150.000 ton. Tanah tersebut sesudah dieksploitasi ditaksir bernilai Rp 2.000.000,00. Deplesi per ton dihitung sebagai berikut :

Deplesi = Rp 20.000.000,00 – Rp 2.000.000,00 = Rp 120,00 per ton
150.000

Jika pada tahun pertama bisa dieksploitasi sebanyak 40.000 ton, maka deplesi untuk tahun tersebut = 40.000 x Rp 120,00 = Rp 4.800.000,00

Jurnal yang dibuat untuk mencatat deplesi sebagai berikut :
Deplesi Rp 4.800.000,00
Akumulasi Deplesi Rp 4.800.000,00

Revisi Perhitungan Deplesi
Jika pembangunan tambang/sumber alam itu juga terjadi dalam masa eksploitasi, sedangkan biayanya ditaksir di muka pada waktu akan menghitung bebab deplesi, jika kenyataannya biaya pembangunan berbeda dengan yang sudah ditaksir maka perhitungan deplesi perlu direvisi. Begitu juga jika taksiran isi tambangnya berbeda dengan taksiran isi tambang yang dipakai dalam menghitung deplesi maka perhitungan deplesi perlu direvisi. Koreksi terhadap deplesi dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut :
  • Deplesi tahun-tahun lalu yang sudah dicatat dikoreksi, begitu juga untuk deplesi yang akan datang.
  • Deplesi tahun-tahun lalu yang sudah dicatat tidak dikoreksi, tetapi deplesi tahun-tahun yang akan datang dilakukan dengan data yang terakhir.
Dalam cara pertama koreksi dilakukan seperti halnya dalam aktiva tetap. Pada saat diketahui adanya perubahan, dihitung lagi deplesi per unit kemudian dilakukan koreksi. Misalnya deplesi yang lalu terlalu besar, jurnal koreksinya sebagai berikut :

Akumulasi Deplesi Rp xxx
Laba Tidak Dibagi (Koreksi Laba Tahun Lalu) Rp xxx

Dalam cara kedua, deplesi tahun-tahun lalu tidak dikoreksi, tetapi deplesi untuk tahun berjalan dan tahun-tahun yang akan datang direvisi. Misalnya, dari contoh dimuka, biaya pembangunan bertambah dengan sebesar Rp 1.800.000,00. Sesudah dieksploitasi dalam tahun kedua sebanyak 30.000 ton, tambang ditaksir masih mengandung 90.000 ton. Perhitungan deplesi tahun kedua sebagai berikut :

Harga perolehan pertama Rp 20.000.000,00
( – ) nilai sisa Rp 2.000.000,00
Deplesiasi tahun lalu Rp 4.800.000,00 Rp 6.800.000,00
Rp 13.200.000,00
Biaya pembangunan tahun kedua Rp 1.800.000,00
Jumlah yang akan dideplesi Rp 15.000.000,00

Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua :

Hasil eksploitasi tahun kedua (ton) 30.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua (ton) 90.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua (ton) 120.000

Deplesi per ton dalam tahun kedua :
Rp 15.000.000,00 : 120.000,00 = Rp 125,00

Deplesi tahun kedua = 30.000 ton x Rp 125,00 = Rp 3.750.000,00

sumber : http://resum.wordpress.com/2011/01/16/penyusutan-penurunan-dan-deplesi/
http://dosewa.wordpress.com/2008/09/24/penyusutan-aktiva-tetap/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar